Who Are We to Judge?

Kita emang ngga pernah tau alasan seseorang mengambil keputusan, mungkin ada alasan kuat kenapa, dan kita yang hanya sebagai orang ketiga dengan mudahnya mencaci, mencela tanpa memikirkan alasan apa dan keputusan besar apa yang udah dia buat. Kita bahkan ngga pernah tau seberapa besar pengorbanan yang mungkin udah dia lakuin untuk ambil keputusan itu. Lagi-lagi harus belajar banyak untuk hal-hal sesederhana ini. Untuk saat ini, dengan dua hal yang emang ngga bisa untuk memilih, aku sebagai orang ketiga yang menatap sebelah mata atas keputusan yang udah dia buat, dengan memposisikan diri sebagai "korban", mencoba menjatuhkan dia, yang mungkin saat ini sedang terpukul hebat. Dia yang mungkin juga berat untuk mengambil keputusan sebesar ini, tidak bermaksud untuk menyakiti... dan ku mulai menyalahkan sang lelaki (kalo yang ini I can't help wkwk) duh ya mas aku tuh mau deh sekali-kali ngobrol sama kamu, kamu tuh ya bikin gemaz. Tapi balik lagi ke "who am I to judge?" ketika Tuhan saja merestui lalu apa gunanya seonggok daging ini protes :') tapi sungguh aku penasaran alasan apa yang bisa bikin kamu jadi sengeselin itu mas? please explain!
Seketika ngerasa kayak deja vu, aku sebagai dia dan mungkin temanku seperti aku yang sekarang sedang mencaci, dan laki-laki itu ya tentu aja sebagai "dia" yang juga terbully HAHA. Bedanya, aku tak sekuat dia dan aku tak seberani dia untuk mengambil keputusan sebesar ini. Trust me guys, ini ngga sesimple itu, ketika hati mu udah berkata "iya" maka kamu tak akan pernah mau mendengar apapun hal yang buruk tentangnya, bahkan ketika emang kita udah paham betul dengan sikapnya. Gue ngga pernah nyangka bisa ada di posisi ini, bertukar posisi. Untuk mu, ku ucapkan selamat atas keputusan luar biasa yang udah berani kau ambil, semoga Tuhan terus merestui dan melancarkan hari-harimu dengannya. Untukmu wahai lelaki yang telah menyakiti, tolong jaga dan jangan pernah lagi kau berani menyakiti, dan terakhir... untuk mu, yang tersakiti, terima kasih sudah menjelaskan dan menceritakan bagaimana rasanya menjadi 'dia' yang mungkin juga dulu tersakiti karena ku, terima kasih sudah membuatku tidak menyesal untuk meninggalkan dia, kita harus sadar betul bahwa memang dia tidak layak untuk dipertahankan. Let them happy, and trust me, we'll meet our happiness too. You are my brave.

Komentar

Postingan Populer